Solid Gold Berjangka ~ Kampanye Edukatif ala Komunitas Organik

Solid Gold Berjangka ~ Kampanye Edukatif ala Komunitas Organik

 
Solid Gold Berjangka ~ Polah orang-orang yang jorjoran mengikuti tren organik tanpa diimbangi pengetahuan, membuat pegiat organik Christopher Emille Jayanat prihatin. 

"Konsumsi bahan organik itu bukan sekadar gaya hidup, tapi kebudayaan," ujar Emil, sapaan akrabnya, kepada CNNIndonesia.com, baru-baru ini. 

"Kalau sudah menjadi satu budaya, otomatis dia akan pilih makanan yang juga ramah lingkungan, termasuk dengan perilakunya yang tidak boros air dan listrik."

Pendiri Komunitas Organik Indonesia (KOI) ini pun menyayangkan perilaku orang yang asal mengikuti tren tersebut kelak malah mengurangi kesejahteraan petani lokal.

"Karena mereka hanya ikut tren, dan akhirnya memutuskan untuk [membeli produk] impor. Padahal buah atau sayur itu sudah terbang dari mana? Kenapa enggak [konsumsi sayur dan buah] di Indonesia saja yang memang sudah tropis, produksi pun bisa banyak."

Menanggapi hal serupa, Kurnia Yusup Tiana, selaku koordinator Komunitas Jakarta Berkebun, mengaku tengah berusaha untuk mengedukasi orang-orang yang ikut-ikutan tren tersebut.

"Dari yang awalnya cuma ikutan tren, lalu kami edukasi bahwa organik itu seperti apa. Kami beri tahu bahwa ada pengecekan tanah, suhu, juga air," katanya.

Organik di Setiap Aspek Kehidupan

Banyaknya orang yang sekadar bergantung pada tren, memang membuat Emil gerah. Namun kegiatan yang ia usung bersama KOI, tampaknya bisa memberikan perspektif lain bagi masyarakat. Melalui KOI, ia dan teman-temannya menyuarakan kehidupan yang hijau, sehat, dan tentu organik.

"Tak hanya produk, tapi juga organik hati dan pikiran," katanya. 

Mereka yang bergabung dengan KOI pun tak lantas harus memiliki sertifikat organik, melainkan petani-petani kecil yang memang berniat dan berkomitmen untuk bercocok tanam dengan budidaya organik, dan yang terpenting, "tidak menggunakan bahan-bahan kimia."

Selain tanaman yang bebas bahan kimia, rupanya KOI juga mengusung kehidupan yang ramah lingkungan dan sehat untuk tubuh. Mereka meluncurkan beberapa produk ramah lingkungan.

Ada produk kain batik dan tenun yang dibuat dengan pewarna alam. Ada pula produk plastik yang dibikin dari bahan singkong, baju dari bambu, bahkan detergen dari bahan serai.

"Dari segi kesehatan, kami juga ada produk olahan seperti selai dan keripik. Untuk perawatan kulit juga ada, tapi kami tidak menggunakan pengawet dan pemutih," paparnya.

Guna menyeleksi produk-produk tersebut, KOI memiliki dewan pengecekan yang bertugas melakukan kurasi keanggotaan KOI bernama Board of Consultacy and Advisory (BoCA). 

"Kriterianya adalah 4P+G: tanpa penyedap rasa dan pengaroma, pewarna, pengawet, pemanis buatan dan GMO atau rekayasa genetika."

Dengan adanya kelengkapan produk sehat yang dimiliki KOI, kini Emil dan teman-temannya tak lagi berbelanja di supermarket, melainkan di komunitas sendiri. "Termasuk sabun dan sampo juga beli di komunitas," katanya.

Selain bermanfaat untuk lingkungan, juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Menurut Emil, produk tanpa pengawet yang dikonsumsi tubuh akan memudahkan kinerja organ tubuh.

"Badan jadi enggak capek, ginjal enggak berat [kerjanya], aliran darah juga lancar. Kami jadi jarang sekali sakit dan ke dokter," paparnya.

Begitu pula dengan bahan-bahan tanpa pengawet yang digunakan untuk kulit, bisa membuat kulit jadi awet muda.

Lebih lanjut lagi Emil menjelaskan bahwa ia dan keluarganya tak lagi mengonsumsi obat-obatan kimia, dan menggantinya dengan madu, kencur, jahe, atau jamu. Sedangkan dari segi makanan, ia berujar, "Junk food sudah pasti enggak [makan], minuman [yang menggunakan] pewarna juga sudah pasti enggak [minum]."

Tapi, menurutnya, "makanan seperti bersantan dan lemak itu enggak masalah, selama kita masih aktif [bergerak]. Apalagi kalau setelahnya kita makan banyak sayur."

Jika Anda tertarik untuk membeli produk-produk tersebut, KOI menyediakan situs webonline yang bisa digunakan untuk berbelanja, yaitu organik.id. Namun jika ingin membeli secara langsung, Anda bisa mendatangi bazar yang diselenggarakan setiap minggunya.

"Bisa cek di Instagram kami @komunitasorganikindonesia, karena kami akan pindah-pindah mal setiap minggunya, atau bisa juga datang ke pameran seperti setiap Oktober, karena tersedia lebih banyak pilihan," jelas Emil.

Menghijaukan Lahan Tak Terpakai di Jakarta

Berbanding lurus dengan kegiatan KOI, komunitas Jakarta Berkebun yang tergabung dalam Indonesia Berkebun juga melakukan kontribusi nyata terhadap lingkungan. "Setiap akhir pekan, kami merawat kebun di daerah Kemanggisan, Kebon Jeruk," ujar Kurnia.

Ia mengatakan bahwa sejak 2011, Jakarta Berkebun telah melakukan penanaman perdana di Kemayoran dengan dibantu oleh Ridwan Kamil, kini Wali Kota Bandung.

"Kami memaanfatkan lahan yang tidak terpakai. Tapi karena di Kemayoran dibangun apartemen, akhirnya kami pindah ke Bintaro."

Kurnia dan pegiat lain pun bekerja sama dengan warga setempat. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam tanpa menggunakan pupuk kimia sintetis dan pestisida. 

"Kami membuat pestisida sendiri, dari daun pepaya, sambiloto, cabe, juga bawang," kata Kurnia.

Tapi, katanya, "untuk bibit kami belum bisa cek sampai detail. Kami masih membeli dari toko pertanian biasa."

Kurnia menjelaskan bibit yang ditanam bisa cepat dipanen, seperti bayam dan kangkung. Hasil panen tersebut biasanya akan langsung dimasak dan dimakan bersama atau terkadang dijual.

"Kalau hasil panennya memang banyak, biasanya kami jual di Instagram @bangbelibibit. Tapi biasanya kami jual dari mulut ke mulut saja," papar Kurnia.

Namun jika Anda tertarik ingin mencoba, Anda bisa mengikuti salah satu kegiatan dari Jakarta Berkebun bertajuk Garden to Table, yaitu acara demo masak yang biasa diselenggarakan di sekitar Jakarta."

Untuk mengikuti acara tersebut, masyarakat harus terlebih dulu mendaftarkan diri. Biaya yang dikeluarkan pun tergantung pada bahan yang digunakan saat itu.

Sama halnya dengan KOI, Jakarta Berkebun tentu memiliki manfaat yang beragam. 

"Setiap berkebun kami terpapar sinar Matahari pagi, dan itu membantu pencegahan osteoporosis," jelas Kurnia. Selain itu, menurutnya tingkat stres pada pikiran pun kian menurun lantaran sering melihat tanaman berwarna hijau.

Bahkan, ia merasa bahwa kegiatan berkebun lebih baik ketimbang melakukan gym. "Kalau berkebun itu pasti angkat tanah dan pot yang beratnya lumayan [berat]. Jadi bagus untuk otot. Mencangkul juga bagus untuk tubuh."

Komunitas ini juga memiliki sejumlah prinsip yang mereka sebut dengan 3E+S, yakni Ekologi yang berarti menghidupkan kembali lahan kosong agar produktif, Edukasi guna mengajarkan warga agar mencintai lingkungan, Ekonomi untuk menghadapi krisis pangan di masa mendatang, dan Sosial yang berarti sosialisasi.

(Solid Gold Berjangka)

 baca Disclaimer



BACA JUGA

Pt Solid Gold Berjangka ~ Minyak Dekati $ 50 per barel



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kerja ku, " Terdampar di PT Solid Gold Berjangka"

GUDANG SNACK SEMARANG

Solid Gold Berjangka ~ Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional