Merpati Itu Mati di Atas Perut Saya

 PT.SolidGoldSemarang~SESUAI janji saya sebelumnya untuk membagi kisah seputar pengobatan alternatif yang
saya ikhtiarkan selain berobat ke dokter. Ini memang masih berkisah seputar tumor rahim yang memiliki nama keren myoma uteri itu. Ada juga yang menyebutnya fibroid, fibromioma, atau Leiomioma.  
Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang terawang paranormal tentang kehidupan saya kelak, juga tentang kisah-kisah yang kemudian mulai terbukti sesuai terawang sang paranormal yang kini sudah almarhum itu. Mulai dari tumor rahim yang saya idap, sulitnya saya mendapat anak-anak yang terlahir dari rahim sendiri, hingga tiga ‘anak-anak’ manis yang kata dia kelak akan saya miliki.
Nah semua kisah itu sudah saya tuliskan dan sudah pula Anda ikuti. Dan kini akan saya tuliskan upaya saya dan suami mencari pengobatan alternatif pada orang pintar di Surabaya. Selain itu saya juga sregep minum beragam racikan yang disarankan dan katanya bisa mengurangi pertumbuhan tumor di rahim saya.
Mulai dari benalu teh yang harus diminum rutin sehari tiga kali, lalu ada olesan berupa ramuan yang terdiri dari merica lanang dan bawang lanang yang dihaluskan lalu diencerkan dengan minyak kayu putih. Dan ketika dioleskan di atas perut saya, panasnya sungguh sangat menyengat. Tidak heran jika kemudian kulit di perut saya luka, mengelupas, lalu meninggalkan bekas hitam. Duh…
Selain itu saya juga mencoba terapi pijat di daerah Sidoarjo. Yang dipijat bukanlah perut, namun betis saya yang menjadi sasaran. Bukan dipijat sih sebetulnya, namun dicubit secara acak di kedua betis saya. Hanya beberapa cubitan saja, namun setiap kali dicubit sakitnya terasa hingga ke seluruh tubuh.
Saat menunggu giliran, saya memang mendengar desis bahkan teriakan pasien yang tidak tahan dicubit. Dan ketika giliran saya tiba, sesakit apapun saya memang pantang berteriak. Saya hanya mendesis menahan rasa sakit, menggigit bibir, namun membiarkan air mata saya meleleh. Hehehe…
Untuk menikmati terapi cubit ini memang tidak ada patokan tarif khusus yang dipungut dari pasien. Semua pasien yang berkunjung bebas menaruh uang sesuka hatinya. Hanya, pasien disarankan untuk membeli racikan jamu buatan sang penyembuh.
Selain itu suami juga menyarankan agar saya mencoba pengobatan alternatif pada seorang pintar di Surabaya. Seseorang yang bergelar Gus yang konon menyembuhkan puluhan pasien yang datang ke rumahnya. Sama seperti gaya pengobatan orang pintar di Sidoarjo, si Gus ini juga tak mengutip bayaran dalam banderol tertentu. Semuanya seikhlasnya, sesukanya dan segera dimasukkan ke dalam kaleng yang sudah dipersiapkan.
Gaya pengobatan Gus ini lebih berkiblat ke gaya Timur Tengah, selain membacakan jampi dan mantra dalam bahasa Arab (sayang saya tidak tahu arti dan terjemahannya) ia juga ‘meresepkan’ racikan yang bisa dibeli di tempat atau di tempat lain, meraciknya sendiri dan mengoleskannya secara rutin.
Saya datang beberapa kali ke sana untuk berkonsultasi, sampai diambil keputusan Gus akan melakukan operasi tumor rahim saya. Caranya Gus? Ternyata tumor saya akan dipindahkan ke burung merpati. Tepatnya seekor burung merpati yang memiliki nama Latin columba oenas. Waktunya sudah disepakati, pada pagi hari.
Suami disarankan melengkapi semua persyaratan. Mulai dari seekor burung merpati, kain kafan putih, dan sejumlah uang. Saya kurang tahu persis berapa rupiah yang dia minta. Kata suami saya sekitar Rp 400.000 (waktu itu).
Hingga saatnya tiba, mengapa hati kecil saya belum seia sekata? Malam hari saya shalat hajat dan tajahud memohon petunjuk agar saya tenang ketika melangkah keluar rumah untuk melakoni jalan ikhtiar ini. Ayat Kursi tak putus-putus saya baca sepanjang jalan hingga ke tempat tujuan. Mengapa hati saya masih belum mantap juga?
Saya sudah meminta restu juga maaf kepada ibu dan bapak saya, juga kepada mertua saya ihwal operasi alternatif yang baru kali ini akan saya jalani. Dan ketika tiba di rumah Gus pagi itu, saya segera digiring ke dalam ruang supermungil. Hanya seukuran satu meter kali dua meter saja. Saya dibaringkan setelah sebelumnya ia menyentuh kedua pelipis saya dan menyuruh saya memejamkan mata dan tidur.
Ketika saya terpejam dan dibaringkan, baju yang menutup perut saya dibuka, saya merasakan ada cairan yang dioleskan ke perut saya, duh… wangi banget mack! Tapi saya harus menahan diri untuk tidak bersin. Lalu saya merasakan perut saya seperti ditulisi. Baru kemudian kain kafan itu ditutupkan ke atas perut saya. Sesudahnya burung merpati itu diletakkan di atas perut saya. Lalu si Gus ke luar kamar dan meninggalkan saya sendirian di sana.
Selama proses itu berlangsung saya tidak bisa menyaksikannya sendiri (kan saya sedang dalam pengaruh hipnotis) namun saya masih bisa merasakannya. Dan menahan diri dengan aroma wewangian yang luar biasa ini. Selama itu pula saya terus membaca ayat kursi dan terus ‘bertanya’ ya Allah seandainya ini jalanMU, berikanlah aku kesembuhan lewat tangan si Gus, namun seandainya ini bukan jalanMU, bebaskanlah kami semua dalam kebaikan.
Saya rasakan burung merpati itu terus mengepak-ngepakan sayapnya, bergerak ribut, namun tak satu jeritan pun ia perdengarkan. Dalam hati saya bertanya, apakah ia terikat sehingga tak mampu terbang? Lalu mengapa ia tidak terjatuh dan tetap berada di atas perut saya?
Demi Allah saya benar-benar sadar dengan mengikuti semua proses meski dengan mata tertutup. Jujur saja, sebenarnya saya tergoda untuk membuka mata saya. Mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Telinga saya juga bisa menangkap obrolan ngalor ngidul antara si Gus dan suami saya di luar kamar yang hanya berdindingkan tripleks tipis.
Saya mulai tidak sabar, kapan semua ini akan berakhir? Entah si Gus mendengar atau memang waktu pengobatan sudah usai, ia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Lho suara itu juga sudah diam. Burung merpati itupun sudah tidak bergerak-gerak lagi di atas perut saya. Apa yang terjadi?
Dengan jemarinya si Gus menyentuh kedua pelipis saya dan membangunkan saya. Perlahan-lahan (biar dikira tidur gitu loh), sambil sesekali mengerjap seolah silau dengan sinar lampu, saya membuka mata. Saya disuruh duduk, sementara burung merpati itu sudah diamankan berbungkus kain kafan.
Segelas air mineral yang sudah ditambah dengan doa disodorkan si Gus untuk saya minum. Saya minum sekadarnya saja. Dan si Gus berpesan agar nanti sepulang ke rumah saya diminta untuk tidak mandi, setidaknya sampai sore hari.
Dan burung merpati itu disuruh dibawa pulang untuk dikuburkan. Gus juga berpesan, kalau tidak percaya dengan pengobatannya bisa dibuktikan dengan membelah perut merpati yang kini menanggung beban tumor rahim saya. Benarkah?
Saya tak hirau dengan itu semua. Saya sudah benar-benar ingin pulang dan berganti baju bersih yang bebas dari aroma wewangian khas Arab ini. Sesampainya di rumah, suami saya menguburkan burung merpati itu di taman depan rumah.
“Apakah mau melihat isi perut burung merpati?” tawaran suami terpaksa saya tolak. Apa bedanya, pikir saya, kan sebelumnya saya juga tidak tahu di dalam sana ada benjolan atau tidak. Maksud saya, kan harus tahu before dulu sebelum after kan?
Hari, minggu, bulan, hingga tahun berlalu setelah operasi pemindahan myoma uteri saya lewat tangan si Gus. Tanpa menengok isi perut burung merpati yang konon tumor saya sudah dipindahkan ke sana, saya yakin tumor itu masih ada di dinding rahim saya.
Tidak percaya? Lha setiap hari saya masih menemukan benjolan itu tetap berada di sana tuh! Di perut saya sebelah kiri bawah. Tidak ada jalan lain, saya harus kembali mengunjungi dokter saya dulu untuk melakukan operasi Caesar yang kedua. Dan operasi Caesar kedua itu akhirnya dilakukan oleh dokter yang sama dan di rumah sakit yang sama, di RS Lavalette Malang, setelah tiga tahun operasi Caesar pertama saya dulu.
Kini, rahim saya sudah bersih dari benjolan, dan tidak ada indikasi myoma bakal muncul kembali, meski saya belum juga hamil dan anak-anak manis yang saya impikan belum juga hadir. Saya teringat ujaran RA Kartini yang ia lontarkan seabad silam, “Apakah seorang perempuan dipanggil ibu hanya karena ia pernah melahirkan anak dari rahimnya sendiri?”
Ya Allah.. aku tak hendak menghindar dari ujian dan cobaanMU ini karena aku yakin tidak pernah ada yang sia-sia…

baca Disclaimer

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kerja ku, " Terdampar di PT Solid Gold Berjangka"

GUDANG SNACK SEMARANG

Solid Gold Berjangka ~ Guyonan Mukidi…SORGA ATAU TENTARA